Puluhan Warga Negara Indonesia (WNI) yang baru pulang dariMyanmarmenjalani karantina di hotel hotel yang ada diKutadan Jimbaran sejak akhir pekan lalu. Mereka kaget dan protes karena disuruh bayar tempat karantina tersebut sebesar Rp 350 ribu per malam dan wajib untuk melakukan tes swab dengan biaya sendiri. “Waktu dipersilakan pulang ke Indonesia, kami memang tanda tangan bahwa siap menjalani karantina, tapi tidak ada penjelasan bayar atau tidak. Makanya kami kaget kok sekarang malah disuruh bayar Rp 350 ribu per malam.

Bayangkan kalau karantina 14 hari berapa habis uang kami,” kata salah satuWNIyang baru pulang dariMyanmar, Bayu Maulana, saat dihubungi melalui sambungan telepon, Rabu (3/6/2020). Bayu adalah satu dari 19WNIyang menjalani karantina di sebuah hotel yang ada diKuta, Badung, Bali. Sisanya, mereka dikarantina juga di sebuah hotel di Jimbaran.

Hingga saat ini, mereka masih bertanya tanya kenapa mereka disuruh bayar karantina tersebut. Bayu bercerita, belasanWNItersebut baru bisa pulang dariMyanmarke Indonesia melalui Bandara Ngurah Rai pada Sabtu (30/5/2020). Sebelumnya,WNItersebut sempat terjebak selama sebulan diMyanmarlantaran negara tersebut melaksanakan kebijakanlockdown.

Pada akhir Mei lalu, Kedutaan Besar Indonesia diMyanmarmemberitahu secara mendadak bahwa mereka sudah bisa pulang ke Indonesia, tapi harus melalui Bali. Mereka pun menyanggupi dan menandatangani surat jalan yang di dalamnya berisi keterangan siap menjalani karantina. Tiba di Bandara Ngurah Rai, Bali, pada Sabtu (30/5/2020) siang, puluhanWNIitu diperiksa seperti biasa oleh petugas bandara, namun tidak diminta hasil tes PCR, swab, atau rapid test.

Di pintu keluar bandara, tiba tiba ada sejumlah orang yang mengaku sebagai relawan mendatangi mereka dan mengaku memang menjemput mereka di bandara. “Gak ada koordinasi apa apa sebelumnya, tiba tiba mereka datang, menjemput dan mengantar kami ke sebuah hotel. Sampai di hotel, disuruh bayar Rp 350 ribu per malam, kami kaget, dan bertanya tanya. Sebab, setahu saya kalau WNA baru bayar, kami kan warga negara Indonesia,” tutur Bayu. Setelah sehari menginap di hotel tersebut, Bayu memutuskan untuk bertanya ke pihak pihak yang mengantarkannya ke sana.

Hanya saja, Bayu tak mendapat jawaban yang jelas. Malah mereka diberi jawaban dengan nada emosi. “Apa maksudmu nanya seperti itu,” kata Bayu menirukan ucapan relawan yang ditanyainya. Tak puas, Bayu juga mengecek satu persatu surat surat edaran, surat keputusan yang dikeluarkan oleh pemerintah Indonesia dan pemerintah daerah di Bali terkait dengan protokol dan prosedur kepulanganWNIdi masa pandemiCovid 19ini.

Setelah ia cek semua surat surat tersebut, Bayu mengaku belum melihat ada surat yang menyatakan bahwaWNIyang pulang ke Indonesia membayar biaya karantina. “Yang ada itu WNA, baru bayar. Saya sudah cek surat suratnya,” kata Bayu. Bayu dan temannya di Bali pun sudah sempat menelepon sejumlah pihak mulai dari Satgas Covid 19 di Provinsi Bali, Satgas Covid 19 di Kabupaten Badung.

Namun mereka terkesan saling lempar. “Saya disuruh telepon si A. Sudah hubungi si A, disuruh hubungi si B. Sudah saya hubungi si B, malah disuruh hubungi si C. Dan ending nya sampai di petugas satgas, mereka malah bingung tidak tahu, nah ini sebenarnya ada apa sih,” Tanya Bayu terheran heran. Bayu dan belasanWNIyang dikarantina di sebuah hotel diKutaitu sebetulnya tak ingin karantina di sana jika mereka harus bayar Rp 350 ribu per malam.

Namun, saat ini KTP mereka sudah disita. “Saya asli Banyuwangi, sebenarnya ingin pulang langsung ke Banyuwangi, tapi tidak dikasih, harus di sini,” kata Bayu. Tadi pagi, Bayu dan puluhanWNIyang dikarantina tersebut sudah menjalani swab test di RS PTN Unud.

Mereka ada yang disuruh bayar Rp 900 ribu, Rp 200, dan ada yang tidak bayar. Bayu dan teman temannya yang dikarantina di sana berharap agar pemerintah memperhatikan mereka. Sebab, banyak di antara mereka yang sudah tidak bekerja dan tidak ada penghasilan sehingga akan sangat susah jika diharuskan membayar tempat karantina Rp 350 ribu per malam.(*)

Tags:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *