Viral hari ini sebuah cerita dari Imron, salah satu penumpang yang jadi korban tewas kecelakaan Bus Sriwijaya di Tikungan Lumatang Indah, hendak hadiri pesta pernikahan keponakan. Kecelakaan yang menelan banyak korban jiwa terjadi lagi di akhir tahun 2019. Bus Sriwijaya dengan tujuan Palembang dari Bengkulu masuk jurang di Liku Lumatang, Desa Perahu Dempo, Kota Pagaralam, Sumatera Selatan.

Kecelakaan Bus Sriwijaya itu terjadi pada Senin, 23 Desember 2019 malam. Cerita pilu datang dari Imron (58) yang menjadi salah satu korban kecelakaan Bus Sriwijaya. Rencananya Imron hendak pulang ke kampung halamannya di Indralaya untuk menghadiri pernikahan keponakannya.

Namun nahas, niat baik Imron untuk hadir ke acara hajatan keponakannya harus menjadi kabar buruk bagi keluarga. Bus yang ditumpangi Imron mengalami kecelakaan dan masuk jurang. Dilansir dari , Masturoh (63), kakak perempuan korban yang beralamat di belakang Puskesmas Indralaya mengatakan, ia tengah bersiap melaksanakan hajatan.

Masturoh hendak melangsungkan pernikahan anaknya yang bernama Melisa, Rabu esok. "Imron rencananya mau ke sini, menghadiri pernikahan anak saya ini," ujarnya, tanpa raut wajah sedih. Imron diketahui sudah lama menetap di Bengkulu.

Menurut Masturoh, Imron sudah 25 tahun menetap di Bengkulu. "Terakhir 3 tahun yang lalu dia pulang ke sini, lupa waktu kapan. Tapi setelah itu belum balik lagi ke sini," ungkapnya. Sebelumnya Imron telah menelpon dirinya untuk memberitahu, jika dirinya akan pulang bersama dengan istrinya Yulia.

Ia meminta di jemput di daerah Timbangan Indralaya, pagi hari ini. "Dia sempat bekelakar (bercanda), kalu dak sampai aku ke sano, la lupo aku jalan (kalau tak sampai aku ke sana, sudah lupa aku jalan)," ungkapnya. Benar saja, kabar buruk datang.

Imron benar benar tidak sampai ke lokasi tujuan. Bus yang ditumpangi Imron mengalami kecelakaan hingga merenggut nyawa Imron. Keluarga mengaku tidak percara dengan kabar tersebut.

"Jujur masih tak percaya. Ga tau kenapa, saya masih tak percaya kalau dia meninggal," ungkap Matsuroh. Berita Kisah Nenek Hasanah berhasil selamatkan cucu dan 2 temannya dari kecelakaan : 'Kami pegangan pohon, airnya deras'.

Telah terjadi kecelakaan tunggal di Desa Prahu Dipo, Kecamatan Dempo Selatan, KotaPagaralam,Sumatera Selatan, Selasa (24/12/2019). Kecelakaan di Liku Lematang itu menewaskan 25 orang yang sebagian besar merupakan penumpang . Humas kantor SAR Palembang Dayu Willy mengutarakan, berdasarkan update terbaru, jumlah penumpang tewas bertambah menjadi 25 orang.

Sementara 13 penumpang bus selamat dan masih dirawat di Rumah Sakit Besemah,Pagaralam. Beruntung satu saksi dan korban kecelakaan selamat yang bernama berhasil selamatkan 3 nyawa dari kecelakaan tersebut. Yang berhasil nenek itu selamatkan adalah dirinya sendiri, cucunya, sekaligus 2 temannya.

Hal inidikisahkan oleh saatterbaring lemah di ranjang saat diwawancarai diRumah Sakit Besemah, Pagaralam. Hasanah (52) adalah salah satu korban yang selamat dalam kecelakaan maut dan mampu menceritakan secara detail kronologi jatuhnya ke jurang. Hasanah pun dapat menceritakan bagaimana kronologi yang menimpa dirinya dan penumpang lainnya saat kejadian kecelakaan tunggal .

Saat diwawancarai, Hasanah menjelaskan, saat itu dirinya, cucu dan 2 rekannya menumpangiBus Sriwijayadari Bengkulu menuju Palembang. Bus yang ia tumpangi sebelum kejadian bahkan sempat ditabrak sopir travel yang mengendari mini bus. Sempat bersitegang, sopir Bus Sriwijaya dan travel akhirnya berdamai sebelum akhirnya penumpang diturunkan di rumah makan sekitar Pendopo.

"Di ujung Pendopo ((Kabupaten Empat Lawang), bus kami masuk siring (selokan) dan hampir terbalik. Kami turun semua," katanya saat ditemui RSUD BesemahPagaralam. Hasana melanjutkan, saat itu bus ditolong oleh pengendara lain yang lewat dan bus kembali melakukan perjalanan. "Dia ngebut dan tiba tiba nabrak kencang. Tahu tahu kami sudah sudah ada di dalam air," ungkapnya yang terus melihat plafon RSUD.

Saat kejadian tersebut, lanjut Hasana, ia, cucunya Aisyah dan 2 temannya dari Bengkulu sedang bercanda dan tidak sedang tidur. "Saya pegang cucu saya. Teman teman saya langsung pecahkan kaca, kami keluar," ujarnya yang duduk di nomor 4 dari belakang bus. "Dari situ, kami berpegangan dengan batang (pohon). Kalau tidak, kami akan hanyut karena air sangat deras. Kami teriak teriak. Belum ada yang tolong karena kejadiannya malam," ungkap Hasanah.

Tak hanya Hasana, cucunya Aisyah yang masih berusia 9 tahun pun ikut berteriak minta tolong orang sekitar. Beberapa warga setempat mulai berdatangan. "Tolong, tolong. Kalau ada orang di atas, tolomg kami. Om tolong kami," katanya yang menirukan teriakan sang cucu. Berikut daftar nama penumpang selamat sementara berdasarkan informasi tim SAR:

1) Basarudin, 43 tahun, pedagang, Desa Semarang Kecamatan Tanjung Serut Kota Bengkulu. 2) Hepriadi, 31 tahun, kuli bangunan, Desa Salak Tiga Kecamatan Panorama Kota Bengkulu. 3) Hasanah, 52 tahun, ibu rumah tangga, Desa Tanjung Suko Kecamatan Indralaya Kabupaten Ogan Ilir.

4) Sukiyem, 43 Tahun, petani, Desa Lubuk Selandak Kecamatan Terambang Jaya Kota Prabumulih. 5) Aisyah Awaliah Putri, 9 Tahun, pelajar, Jalan Salak Kota Bengkulu. 6) Ariri, 14 Tahun, pelajar, Desa Perajin Kabupaten Banyuasin.

7) Lukman, 43 Tahun, swasta, Jalan Budi Utomo Kelurahan Sungai Hitam Kecamatan Muara Bangka Hulu Kota Bengkulu. 8) Aldi, 18 Tahun, pelajar, Desa Jejawi Kabupaten Ogan Komering Ilir. 9) Riduan, 44 tahun, penjahit, Dusun Kinono Sari Kelurahan Banjar Sari Enggano Kabupaten Bengkulu Utara.

10). Darusalam, 35 Tahun, pengrajin besi, Desa Sakatiga Kabupaten Ogan Ilir. 11) Riki, 25 Tahun, Desa Kemang Kecamatan Tebing Tinggi Kabupaten Empat Lawang. 12) Haris Krisyanto, 19 tahun, Desa Alas Bangun Kecamatan Pinang Raya Bengkulu Utara.

13) Khadijah, 68 tahun, IRT, Perumnas Baru Blok A2 Kab. Bengkulu

Tags:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *