Diskusi yang diselenggarakan oleh Consitutional Law Society (CLS) Komunitas Hukum Tata Negara Fakultas Hukum Universitas Gajah Mada atau UGM dibatalkan. Acara itu seharusnya akan berlangsung secara daring, pada Jumat (29/5/2020) pukul 14.00 WIB. Pembatalan dilakukan karena diskusi dinilai menuai polemik terkait dengan topik yang akan dibahas.

Dikutip dari , Diskusi yang menuai polemik ini awalnya berjudul Persoalan Pemecatan Presiden di Tengah Pandemi Ditinjau dari Sistem Ketatanegaraan . Kemudian oleh pihak panitia diubah menjadi Meluruskan Persoalan Pemberhentian Presiden Ditinjau dari Sistem Ketatanegaran . Presiden CLS UGM, Aditya Halimawan mengakui adanya perubahan tajuk tersebut.

Aditya menuturkan, judul harus diganti karena sebelumnya ada kesalahan dalam penggunaan diksi. Sehingga menjadi tidak sesuai dengan Undang Undang Dasar (UUD) 1945. Penggantian itu juga diharapkan dapat mengubah pemikiran masyarakat yang mengetahui mengenai rencana diskusi itu.

Aditya juga sudah mengakui apabila ada kesalahan dalam penggunaan tata kalimat yang kurang tepat. "Kami ingin meluruskan persepsi masyarakat juga, memang ada kesalahan dari kami," terang Aditya dikutip dari Kompas.com. "Penggunanaan itu tidak sesuai dengan yang diatur di UUD."

"Nah kami mengganti itu supaya kami meluruskan sesuai dengan UUD," tambahnya. Setelah diskusi bertajuk pemberhentian presiden ini diketahui masyarakat luas, mulai banyak hal aneh yang diterima pihak panitia. Bahkan Aditya mengatakan ada dugaan akun WhatsApp seorang panitia diretas.

Masih dikutip dari Kompas.com , ada pemberitahuan mengenai diskusi itu yang disebar melalui pesan berantai di aplikasi WhatsApp. Isi pesan itu berbunyi diskusi mengenai pemberhentian presiden dibatalkan. Aditya dapat dengan pasti menyebutkan informasi tersebut tidak resmi dari panitia diskusi.

Sehingga menutur Aditya ada dugaan peretasan WhatsApp panitia. Dan kemudian berhasil mendistribusikan pesan yang menyebut pembatalan diskusi. Peretasan WhatsApp dialami oleh akun yang menjadi narahubung acara diskusi CLS UGM itu.

"Informasi itu (pembatalan) tidak benar," tutur Aditya dikutip dari Kompas.com . "Ada indikasi peretasan. Informasi (pembatalan) itu hoaks, itu akibat dari peretasan akun narahubung kami," lanjutnya. Ditemui di lain kesempatan, Kepala bagian Humas dan Protokol UGM, Iva Ariani buka suara.

Masih dikutip dari Kompas.com , Iva menyebutkan acara diskusi secara resmi bukan dari Fakultas Hukum maupun universitas. Jadi memang murni diselenggarakan oleh komunitas hukum tata negara yang diketuai oleh Aditya. "Itu bukan acara resmi dari Fakultas Hukum maupun UGM," ungkap Iva dikutip dari Kompas.com.

Rencana diskusi tersebut juga tersebar di media sosial dan diketahui banyak masyarakat. Banyak beranggapan apabila diskusi itu bagian dari usaha menjatuhkan dari pemerintah yang sah atau makar. Dilansir oleh , anggapan tersebut langsung dibantah oleh Aditya.

Ia menuturkan sudah memberikan klarifikasi terkait maksud dan tujuan diadakannya diskusi itu. Diskusi yang diselenggarakan oleh CLS UGM itu disebutkan bersifat akademis. Aditya menyampaikan tidak ada unsur kepentingan politik siapapun dan apapun.

"Seperti klarifikasi yang sudah kami sampaikan, bahwa kami bersifat akademis," jelas Aditya dikutip dari Kompas.com. "Tidak berkaitan oleh politik manapun atau agenda politik manapun," imbuhnya. Sebelum adanya pembatalan secara resmi, panitia melakukan koordinasi dengan pembicara.

Masih dilansir Kompas.com, akhirnya panitia memutuskan untuk membatalkan diskusi. Keputusan ini diambil karena mempertimbangkan berbagai poin. Yakni seperti situasi dan kondisi yang dirasa sudah tidak mendukung.

Terlebih ada panitia yang sempat mendapatkan ancaman terkait penyelenggaraan diskusi. Namun Aditya tidak mengungkapkan dengan detail perihal ancaman yang didapat. "Ini kesepakatan dari pembicara dan penyelenggara, karena memang kondisinya semakin tidak kondusif," ujar Aditya dilansir Kompas.com.

"Ya sebelumnya kami mendapat tindakan semacam peretasan dan ancaman juga," pungkasnya.

Tags:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *