Surat nikah dan surat perjanjian cerai antara Ir Soekarno alias Bung Karno dengan Inggit Garnasih milik keluarga almarhumah Inggit Garnasih akan dijual. Kabar itu pertama kali diketahui dari unggahan Instagram @Popstorindo yang dikelola oleh Yulius‎ Iskandar yang diunggah pada Rabu (23/9/2020). Menanggapi hal itu, anggota Komisi IX DPR RI Fraksi PDI Perjuangan (PDIP) Rahmad Handoyo mengimbau jangan sampai masalah lelang tersebut menjadi konsumsi publik, karena sebenarnya bersifat privasi.

Rahmad sendiri menyayangkan pelelangan surat nikah dan surat cerai milik Bung Karno dengan Inggit Garnasih tersebut. Pasalnya surat itu menyangkut sejarah pendiri bangsa. Sehingga akan lebih baik, kata politikus asal Boyolali tersebut, jika semua pihak yang terlibat dalam pelelangan mempertimbangkan kembali terkait untung ruginya. "Demi kita anak bangsa untuk menghormati sang proklamator kita, apalagi untuk dinilaikan ekonomi. Kita harus hormati dan junjung tinggi kehormatan pendiri bangsa," kata Rahmad.

"Meskipun data data ini dipegang dan menjadi hak ahli waris, sekali lagi perlu dipertimbangkan kembali keinginan untuk masuk lelang. Saran saya perlu ada koordinasi dan diskusi dengan lembaga terkait yang menyangkut arsip dan sejarah nasional," tandasnya. Sebelumnya diberitakan, surat nikah dan surat perjanjian cerai antara Ir Soekarno alias Bung Karno dengan Inggit Garnasih milik keluarga almarhumah Inggit Garnasih akan dijual. Kabar itu pertama kali diketahui dari unggahan Instagram @Popstorindo yang dikelola oleh Yulius‎ Iskandar yang diunggah pada Rabu (23/9/2020).

Dia merupakan kolektor barang antik. "Gini, kan, saya ini jual beli barang antik, macam macam. Kebetulan yang punya menawarkan mau dijualin, kalau barangnya mah enggak saya pegang," ujar Yulius saat dihubungi pada Kamis (24/9/2020). Dokumen itu terdiri dari dua jenis.

Pertama surat keterangan pernikahan. Kedua, surat perjanjian yang isinya menerangkan perceraian Ir Soekarno dengan Inggit Garnasih. Sejak diposting, ia mengaku banyak dihubungi banyak pihak.

"Para sejarawan kontak saya, sayang katanya kalau dijual, mending disimpan. Saya enggak tahu, tadi saya posting seizin beliau, tolong cariin pembeli, bagusnya kalau punya akses ke pemerintah seperti badan arsip atau museum," ucap Yulius. Dalam percakapan dengan salah satu keluarga Inggit Garnasih, kata dia, soal harga sudah dibuka. Harga yang ditawarkan fantastis.

"Buka harga Rp 25 miliar. ‎Saya enggak tahu kenapa pengen dijual, tapi mungkin beliau sebagai pemegang dokumen sejarah, di tengah usia senja juga," ucap Yulius. Yulius mengaku sebagai pengagum Bung Karno. Ia sempat kaget saat melihat isi dari dokumen tersebut. Ia mengaku tidak bisa melarang dokumen bersejarah.

"Saya sama sama pengagum Bung Karno. Ini arsip bersejarah. Cuma balik lagi, dijual itu hak beliau. Saya kalau punya dana pasti saya beli, saya jaga," ucap dia. Dalam surat perceraian, dituliskan bahwa Soekarno tinggal di Jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta dan Inggit di Lengkong Besar Bandung. Soekarno sebagai pihak pertama dan Inggit sebagai kedua. Keduanya sudah mufakat dan menerima satu sama lain.

1. Fihak pertama akan membelikan seboeah roemah dengan pekarangannja serta isinja di Kota Bandung oentoek Fihak kedoa, menoeroet petoendjoek dan pertimbangan toean toean Drs Mohammad Hatta,Ki Hadjar Dewantoro dan KH Mas Mansoer Sebeloem dapat izin membeli roemah oleh pemerintah balatentara Dai nIppon, berhoeboeng dengan Oendang oendang Nomor 2 Pasal 10,fihak pertama menjewakan roemah tjoekoep dengan isinja bagi fihak kedoea, djoega menoeroet petoendjoek dan pertimbangan toean toean Drs Mohammad Hatta, Ki Hadjar Dewantoro dan KH Mas Mansoer," 2. Fihak pertama mengakoe berhoetang kepada fihak kedoea djoemlahnya F6230 dan akan membajarnya: a. Konen F 2000 b. Sisanya F 4280 diangsoer membajarnya f50 seboelan selama 10 tahoen.

3. Fihak pertama memberi nafkah kepada fihak kedoea seoemoer hidoep F75 per bulan. 4. Barang barang milik Fihak pertama dan kedua jang ditinggalkan di Bengkoeloe, dibagi seperti ini. Segala boekoe boekoe dibagikan kepada fihak pertama jang selebihnja kepada fihak kedua. Demikianlah soerat perdjandjian ini diboeat di Djakarta, pada Djoemat tanggal 29 Boelan I tahun 2603.

Surat itu ditandatangani oleh Ir Soekarno dan Inggit Garnasih dan disaksikan Drs Mohammad Hatta, Ki Hadjar Dewantara dan KH Mas Mansoer. Ketiganya turut menandatangani surat tersebut.

Tags:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *