Putri Kerajaan Arab Saudi, Princess Lolowah binti Mohammed bin Abdullah Al Saud tertipu hingga Rp 512 miliar atau setengah triliun lebih. Penipuan ini terkait pembelian tanah dan pembangunan vila di Banjar Sala, Desa Pejeng Kawan, Tampaksiring, Gianyar, Bali. Berdasarkan keterangan Brigjen Polisi Ferdy Sambo selaku Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri, bangunan vila yang dijanjikan pelaku tak kunjung selesai hingga 2018.

Padahal sang putri telah menyerahkan uang sebesar Rp 512 miliar untuk membeli tanah dan membangun vila bernama Vila Kama dan Amrita Tedja. Ferdy Sambo menambahkan, kasus ini pertama kali dilaporkan pada Mei 2019. Mulai 27 April 2011 hingga 16 September 2018, Putri Lolowah telah mengirimkan uang sebesar USD 36.106.574,84 atau setara Rp 505.492.047.760 kepada pelaku untuk membeli tanah dan membangun vila Kama serta Amrita Tedja.

Namun, hingga tahun 2018 vila tersebut tak kunjung rampung. Korban yang penasaran lalu meminta bantuan Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP) untuk melakukan survei. Hasilnya, kondisi bangunan Vila Kama dan Amrita Tedja ternyata tak sesuai dengan kesepakatan harga.

”Nilai bangunan tidak sesuai yang dijanjikan,” ungkap Sambo. Sambo melanjutkan, tanah dan vila tersebut semula akan di balik nama menjadi milik PT. Eastern Kayan. Namun hingga saat ini, tanah dan bangunan tersebut masih atas nama tersangka.

Ferdy Sambo mengatakan, hingga kini pihaknya terus mengurus kasus penipuan tersebut. ”Bareskrim Polri tengah mengusut kasus penipuan tersebut,” imbuhnya. Selain penipuan tanah dan pembangunan vila, kedua pelaku juga menawarkan sebidang tanah seluas 1.600 meter persegi di Jalan Pantai Berawa, Desa Tibubeneng, Kuta Utara, Badung, Bali.

Untuk tanah di Kuta Utara ini, Putri Lolowah mengirimkan uang sebesar Rp 6 miliar kepada pelaku. Namun lagi lagi, setelah ditelusuri nyatanya pemilik tanah tak pernah menjual lahan tersebut. ”Akan tetapi, setelah dikonfirmasi, pemilik tidak pernah menjual lahan itu,” ungkap Ferdy.

Menurut Mudita, kliennya pertama kali bertemu pelaku di Malaysia. Pelaku kemudian menawarkan investasi di Bali dan korban langsung percaya. ”Dari situ ditawari investasi di Bali,” ujarnya.

Tak hanya itu, Putri Lolowah bahkan sempat mengangkat kedua pelaku menjadi direktur utama dan komisaris di perusahaannya. Korban baru sadar ditipu setelah kedua pelaku menghilang pada 2018 dan tak bisa lagi dihubungi. Berdasarkan penuturan Mudita, diketahui kedua pelaku tersebut berstatus ibu dan anak.

Vila ini berada di samping Pura Dalem dan di atas Sungai Petanu. Terlihat sebuah vila yang masih dibangun yang oleh satpam setempat disebut sebagai Vila Amrita. “Iya, ini Vila Amrita,” ungkap satpam.

Sementara di sekitar Sungai Petanu terdapat fondasi bangunan menyerupai akomodasi pariwisata namun tak terurus. Fondasi bangunan ini diduga merupakan Vila Kama. Wayan Nama selaku Kelian Dinas Banjar Sala membenarkan kedua vila tersebut adalah milik keluarga Kerajaan Arab Saudi.

Ia mengungkapkan penyelidikan kasus penipuan tersebut sudah berjalan sejak enam bulan lalu. Saat itu, aparat Polda Bali datang mengumpulkan data dan meminta keterangan warga yang tanahnya dibeli maupun disewa untuk pembangunan vila. “Enam bulan lalu polisi dari Polda sudah ke sini untuk mencari data. Warga sudah banyak dipanggil untuk dimintai keterangan. Di banjar saya ada dua dipanggil,” terang Nama.

Pembangunan vila tersebut katanya sudah berjalan sekitar tujuh atau delapan tahun. Namun karena kerap dibongkar pasang, proyek tersebut tak kunjung usai. "Seingat saya sudah tiga kali. Sudah bagus, tak sampai lama dibongkar lagi dibangun lagi pakai desain baru,” tambahnya.

Ia juga menyebut bahwa pihak yang mengatasnamakan vila tersebut merupakan warga Malang. “Yang namanya dipinjam untuk vila ini, setahu saya orang Malang. Katanya teman pelapor (putri Raja Saudi) saat kuliah dulu. Saya pernah ketemu saat urus izin. Setahu saya, vila ini saat ini hanya mengantongi IMB saja,” imbuhnya. Menurutnya, pengerjaan proyek vila tersebut kembali ramai beberapa bulan belakang.

Hal ini terlihat dari membludaknya jumlah pekerja yang ada. “Waktu ini saya sidak ke sana, ada ratusan pekerja. Pekerja dengan jumlah banyak ini baru datang sejak beberapa bulan ini. Kadang pengerjaannya kembang kempis, lagi ramai, lagi sepi, tidak pernah konsisten, entah apa sebabnya saya juga tidak tahu,” pungkasnya.

Tags:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *