Demokrat Minta Pemerintah Tak Alergi Kritik ICW Sebut 1 Tahun Pemerintahan Jokowi berhasil Kebiri KPK

Indonesia Corruption Watch (ICW) menyebut setahun pemerintahan Jokowi Ma'ruf berjalan sukses mengebiri Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). ICW mencatat misi penegakan hukum yang diusung oleh Jokowi dan Maruf Amin saat mengikuti kontestasi politik tidak pernah terealisasi, khususnya keberpihakan pada sektor pemberantasan korupsi masih menjadi problematika tersendiri. Anggota Komisi III DPR RI Fraksi Demokrat Didik Mukrianto mengharapkan pemerintah tidak alergi dan apriori terhadap setiap kritik dan masukan yang datang.

Menurutnya kritik yang konstruktif seperti yang dilakukan oleh ICW sangat diperlukan dalam rangka memastikan partisipasi publik sebagai bagian pengawasan publik. Pun demikian untuk memastikan KPK sebagai institusi penegak hukum pemberantasan korupsi tetap kuat dan sesuai dengan harapan masyarakat. Dari berbagai kritik dan masukan itu, Didik menilai pemerintah bisa melakukan evaluasi yang mendalam dan utuh terkait dengan pengelolaan anggaran baik di tingkat pusat dan di daerah.

"Dengan segala resources yang dimiliki presiden, harusnya sangat mudah memotret itu semua. Dengan demikian, Presiden akan punya landasan kuat dan road map yang terukur, terintegrasi dan berkesinambungan dalam mewujudkan pemerintahan yang bersih dan bebas korupsi," kata dia. Di sisi lain, Didik mengatakan melihat KPK berikhtiar untuk terus melakukan upaya pemberantasan korupsi dengan berbagai cara dan metode. Apalagi, pikirku Demokrat itu berpandangan pemberantasan korupsi bukan hanya dinilai dari berapa banyak orang yang ditindak dan ditangkap saja.

Melainkan upaya pencegahan dengan berbagai cara untuk memastikan potensi lost keuangan negara dan mempersempit ruang gerak setiap orang yang punya niat korupsi. "Semakin baik dan transparan sistem yang dibangun, yang tidak mudah dijebol, diakali, diperdayai oleh koruptor sangat penting," jelas Didik. Didik juga menegaskan tengah menunggu terobosan terobosan besar dan baru dari KPK dan Pemerintah sebagai pengelola dan pengguna anggaran mampu membangun sistem yang utuh dan transparan, serta responsif terhadap potensi perilaku korup.

"Saya meyakini sistem yang baik dan penegakan hukum yang terukur, serta political will pemerintah yang tinggi terhadap pemberantasan korupsi akan memastikan korupsi bisa diminimalisir dan dihentikan," tandasnya. Sebelumnya diberitakan, pemerintahan Joko Widodo Maruf Amin memasuki periode satu tahun setelah dilantik untuk periode kedua. Indonesia Corruption Watch (ICW) mencatat, misi penegakan hukum yang diusung oleh Jokowi dan Maruf Amin saat mengikuti kontestasi politik tidak pernah terealisasi, khususnya keberpihakan pada sektor pemberantasan korupsi masih menjadi problematika tersendiri.

"Kebijakan yang diambil oleh Presiden selama kurun waktu satu tahun terakhir hanya berfokus pada investasi dan mengabaikan penegakan hukum," kata Peneliti ICW Kurnia Ramadhana dalam keterangannya, Kamis (21/10/2020). Kurnia menyebut, salah satu indikator penting untuk menilai komitmen pemberantasan korupsi dari Presiden Jokowi adalah melihat kinerja struktur penegakan hukum. Menurutnya, mengacu pada Pasal 8 UU Kepolisian dan Pasal 19 ayat (2) UU Kejaksaan, maka Presiden pada dasarnya merupakan atasan struktural, baik bagi Kapolri maupun Jaksa Agung.

Begitu pula pada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), pasca berlakunya UU 19/2019, lembaga antirasuah itu telah dikooptasi sehingga masuk dalam rumpun kekuasaan eksekutif. Maka dari itu, penilaian atas komitmen eksekutif menjadi relevan saat mengukur keberpihakan penegakan hukum khususnya terhadap pemberantasan korupsi. Kurnia menilai, sepanjang satu tahun pemerintahan Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Maruf Amin, praktis struktur penegakan hukum pemberantasan korupsi mengalami kemunduran serta diikuti dengan degradasi kepercayaan publik.

"Misalnya saja pada KPK, sejak tahun 2019 yang lalu publik sudah menyuarakan penolakan atas calon pimpinan bermasalah. Namun, Presiden Joko Widodo tetap saja bersikukuh memilih lima orang Pimpinan periode 2019 2023, salah satunya Firli Bahuri," sebut Kurnia. Kurnia mengatakan, prediksi publik selama ini pun terbukti, Firli dijatuhi sanksi etik karena menggunakan moda transportasi mewah berupa helikopter. Menurutnya, setidaknya ada tiga problematika di kelembagaan KPK saat ini, mulai dari pengelolaan internal kelembagaan, penindakan, maupun pencegahan.

"Seluruh problematika itu tak bisa dilepaskan begitu saja dari figur Pimpinan yang pada periode lalu dipilih oleh Presiden Joko Widodo bersama dengan DPR. Tak hanya itu, bahkan, sampai pertengahan tahun setidaknya terdapat empat lembaga survei yang menyebutkan bahwa KPK kini tidak lagi menjadi lembaga kepercayaan publik," cetus Kurnia. Pada penegak hukum lain, sambung Kurnia, kondisinya pun tidak jauh berbeda, salah satu indikator yang dapat digunakan untuk melihat performa buruk Kejaksaan Agung dan Kepolisian adalah kasus narapidana sekaligus buronan hak tagih Bank Bali Djoko Tjandra. Kasus ini menyeruak ke tengah publik pada pertengahan tahun, yang mana ditemukan adanya dugaan persekongkolan para penegak hukum, baik dari Kepolisian maupun Kejaksaan Agung.

Sampai saat ini, setidaknya dua perwira tinggi Polri dan satu orang Jaksa diduga melakukan permufakatan jahat untuk dapat membebaskan dan membantu pelarian dari Djoko Tjandra. Menurut Kurnia, penanganan kasus Jaksa Pinangki Sirna Malasari di Kejaksaan Agung pun menuai ragam kritik dari masyarakat. "Diduga keras ada upaya perlindungan dari Kejaksaan Agung terhadap Pinangki," kata Kurnia.

Hal itu bermula saat Kejaksaan Agung mengeluarkan Pedoman Pemeriksaan Jaksa, dilanjutkan pemberian bantuan hukum, mengabaikan pengawasan Komisi Kejaksaan, sampai pada tidak adanya koordinasi dengan KPK sebelum pelimpahan perkara ke pengadilan. Dengan berlandaskan itu, menurut Kurnia, semestinya Presiden Jokowi tidak lagi ragu untuk memberhentikan Jaksa Agung. "Akan tetapi Presiden seakan bergeming melihat kejanggalan kejanggalan tersebut. Kinerja penindakan kasus korupsi oleh insititusi penegak hukum pada periode kepemimpinan Presiden Joko Widodo pun sangat buruk," kata Kurnia.

Kurnia membeberkan, alokasi anggaran yang diberikan ke institusi penegak hukum (Kejaksaan, Kepolisian, KPK) sebesar Rp381,6 miliar. Namun, besarnya anggaran untuk penyidikan tidak menjadikan institusi penegak hukum bertindak secara optimal. "Sepanjang semester I 2020 institusi penegak hukum hanya mampu menangani 169 kasus dari target kasus sebanyak total 2.225 kasus," ujar Kurnia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *